Rekonsiliasi Politik Pasca Pilpres 2019: Menumbuhkan Semangat Kebangsaan dalam Konstruksi Sosial Budaya

Political Reconciliation Post 2019 Presidential Election: Fostering National Spirit in Socio-Cultural Construction

Penulis

  • Jerry Indrawan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta image/svg+xml
  • Anwar Ilmar Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta image/svg+xml
  • Ardli Johan Kusuma Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta image/svg+xml

DOI:

https://doi.org/10.33019/jpi.v4i1.78

Kata Kunci:

Konstruksi Sosial Budaya, Pemilihan Presiden, Rekonsiliasi Politik, Semangat Kebangsaan

Abstrak

Kontestasi politik pada Pemilu 2019 lalu memiliki dampak yang cukup mengejutkan. Terlepas dari siapa yang menang, bangsa ini terkesan terbagi menjadi dua kubu, yaitu kubu Jokowi (01) dan kubu Prabowo (02). Polarisasi politik, sosial, dan budaya terjadi pada level elit hingga masyarakat. Potensi perpecahan atau disintegrasi bangsa bisa saja muncul dan menjadi ancaman bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini jika tidak ada upaya nyata untuk memperbaikinya. Untuk itu, diperlukan sebuah upaya nyata untuk menyelesaikan masalah ini. rekonsiliasi nasional untuk menyatukan kembali insan-insan bangsa yang terlepas tali kebangsaannya. Rekonsiliasi yang terjadi harus bersifat menyeluruh sehingga berdampak positif ke semua lapisan, baik elit, maupun masyarakat, dan dilakukan bersamaan secara top-down, maupun bottom-up. Kemudian, rekonsiliasi pasca Pilpres ini juga harus menumbuhkan semangat kebangsaan dalam konstruksi sosial budaya agar pasca rekonsiliasi setiap elemen bangsa secara otomatis akan bersatu padu untuk mencapai tujuan dan cita-cita nasional. Menyikapi kondisi bangsa yang demikian, tulisan ini ingin membahas tentang bagaimana rekonsiliasi politik sebaiknya dilakukan untuk mempersatukan kembali pihak-pihak yang bertikai pasca Pilpres 2019. Rekonsiliasi yang dilakukan ini pada akhirnya harus dapat menumbuhkan semangat kebangsaan dalam konstruksi sosial budaya.

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Biografi Penulis

  • Jerry Indrawan, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

    menyelesaikan Studi Magister di Universitas Pertahanan pada Tahun 2014. Saat ini penulis adalah dosen di Jurusan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.

  • Anwar Ilmar, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

    menyelesaikan Studi Magister di Jurusan Ilmu Politik Universitas Indonesia pada tahun 2016. Saat ini penulis adalah dosen di Jurusan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.

  • Ardli Johan Kusuma, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

    menyelesaikan Studi Doktoral di Jurusan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 2020.  Saat ini penulis adalah dosen di Jurusan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.

Referensi

Aji, P. M., & Indrawan, J. (2019). Cyberpolitics: Perspektif Baru Memahami Politik Era Siber. Depok: PT Rajagrafindo Persada.

Asmal, K, et.al. (1996). Reconciliation Through Truth: A Reckoning of Apartheid’s Criminal Governance. Cape Town: David Philip.

Bar-Tal, D. (2009). Reconciliation as a Foundation of Culture of Peace, dalam Joseph de Rivera (ed), Handbook of Building Cultures of Peace. New York: Springer.

Berger, P., & Luckmann, T. (1990). Tafsir Sosial atas Kenyataan: Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan. Jakarta: LP3ES.

Hayner, P. B. (1999). In Persuit of Justice and Reconciliation: Contribution of Truth Telling. Washington, DC and Stanford, CA: Woodrow Wilson Center Press and Stanford University Press.

Hayner, P. B. (2005). Kebenaran Tak Terbahasakan: Refleksi Pengalaman Komisi-Komisi Kebenaran, Kenyataan, dan Harapan. Jakarta: Elsam.

Jamil, A. (2019, Mei 10). Jaga Persatuan, Pemenang Pilpres 2019 diminta Bentuk Kabinet Rekonsiliasi. Inews.id. https://www.inews.id/news/nasional/jk-rekonsiliasi-akan-lebih-mudah-setelah-putusan-mk/566517 (24 Desember 2021).

Mashad, D. (2004). Andai Aku Jadi Presiden: Menuju Format Indonesia Baru. Jakarta: Khalifa.

Muluk, H. (2009). Memory for Sale: How Groups “Distort” Their Collective Memory for Reconciliation Purposes and Building Peace, dalam Christina J. Montiel & Noraini M. Noor (eds), Peace Psychology in Asia. New York: Springer.

Nasikun. (2004). Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.

Nawawi, H. (1997). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ri’fan, A. (2018, Mei 21). Meredam Polarisasi Pilpres 2019. Detik.com. https://news.detik.com/kolom/d-4030659/meredam-polarisasi-Pilpres-2019 (24 Desember 2021).

Rizqa, H. (2019, April 21). Pengamat Sarankan Empat Poin Rekonsiliasi Pasca-Pilpres. Republika.com. https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/politik/pqb7wj458/pengamat-jelaskan-empat-poin-rekonsiliasi-pascaPilpres (28 Desember 2021).

Rohiman, A. (2019, April 27). Upaya Rekonsiliasi Pasca Pilpres 2019. Kompasiana.com. https://www.kompasiana.com/ahmadrohiman/5cc3ae8795760e6429514a02/upaya-rekonsiliasi-pasca-Pilpres-2019 (3 Januari 2022).

Setiobudi, E. (2019, April 23). Menuju Rekonsiliasi Nasional Pasca Pilpres 2019. Geotimes.co.id. https://geotimes.co.id/opini/menuju-rekonsiliasi-nasional-pasca-Pilpres-2019/ (3 Januari 2022).

Sukmadinata. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Wessells, M. (2009). Community Reconciliation and Post-Conflict Reconstruction for Peace, dalam Joseph de Rivera (ed). Handbook of Building Cultures of Peace. New York: Springer.

Wibowo, A. (2012). Pendidikan karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Unduhan

Diterbitkan

2022-07-31

Terbitan

Bagian

Research Articles

Cara Mengutip

Rekonsiliasi Politik Pasca Pilpres 2019: Menumbuhkan Semangat Kebangsaan dalam Konstruksi Sosial Budaya: Political Reconciliation Post 2019 Presidential Election: Fostering National Spirit in Socio-Cultural Construction. (2022). Journal of Political Issues, 4(1), 50-61. https://doi.org/10.33019/jpi.v4i1.78

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama